Menu

:

Menuju Kota Medan yang Bersih

Dipos Oleh : Admin LP3M
Dibaca : 853 kali
09 Juni 2015 11:38:51

Oleh: Ramen A Purba,S.Kom., M.Kom.

Kebersihan pangkal kesehatan', me­ru­pakan kata bijak yang dulu sering di per­dengarkan di sekolah-sekolah se­tiap pe­laksanaan upacara di hari Senin. Ada juga kata bijak yang berbunyi, 'Ke­ber­­si­han merupakan seba­gi­an dari Iman'. Jelas terbersit bahwa kebersihan menjadi hal yang sakral yang pen­ting bagi kehi­du­pan. Selain bagi kehidupan pribadi, ke­bersihan juga penting bagi khalayak ra­­mai yang bernaung di kota, salah satu ciri kota metropolitan yakni menjaga ke­ber­sihan setiap sudut lingku­ngan yang ada di dae­rahnya. Ketika kita me­man­dang Me­dan kota kita yang ter­cinta, maka sam­pah masih terlihat me­numpuk, baik di tempat sampah semen­tara yang resmi, maupun tidak resmi. Belum lagi yang sengaja membuangnya ke sungai, bah­kan di jem­batan layang. Miris memang ketika kota Medan yang dihuni oleh banyak orang berpendidikan tetapi masih bisa juga lalai dalam menjaga kebersihan.

Menurut penjelasan Pemko Medan, masyarakat kota Medan, baik rumah tangga, pelaku usaha, maupun industri menghasilkan sekitar 1.725 ton sampah per hari. Hanya 525 ton sampah yang te­rang­kut setiap harinya. Pihak Pemko Me­dan mengatakan armada pengangku­tan sampah belum seimbang. Armada yang tersedia saat ini, yakni becak sam­pah 850 unit, gerobak sampah 335 unit, mo­bil pick up 6 unit, conpactor 7 unit, dump truk jenis tipler 167 unit dan dump truk jenis kontainer 22 unit. Lalu tenaga yang dipekerjakan, 2.812 orang, terdiri penyapu jalan hingga operator kendara­an, seperti sopir. Belum lagi ketersediaan tem­pat sampah sementara masih sangat minim. Gam­ba­ran kondisi yang sesung­guh­nya sangat ti­dak seimbang dengan be­saran wilayah kota medan, ditambah jum­lah penduduk kota Medan saat ini yang juga tergolong be­sar. Tentunya ha­rus ada solusi dan per­hatian khusus dari pi­hak Pemko Medan ter­hadap minimnya fa­silitas kebersihan ini.

Secara implisit kita memang tidak bisa semata-mata menyalahkan pihak Pemko Medan karena minimnya fasili­tas. Se­sung­guh­nya kebersihan kota bukan hanya tu­gas Pemko untuk menja­ga­­nya, tetapi me­rupakan tugas segenap masyara­kat yang hidup dan berdomisi di kota Medan. Masyarakat harus sadar man­fa­at penting dari kebersihan sehing­ga mereka juga bisa menjaga kebersihan mini­mal di ling­kungan tempat ting­gal­nya. Tetapi terka­dang banyak juga masyarakat yang tidak peduli dengan kebersihan lingkungan­nya. Mereka cuek dan membiarkan sampah be­gitu saja ber­serak di lingkungan me­reka. Bagai­mana kota medan bisa bersih jika men­tal-men­tal masyarakatnya juga ma­sih se­perti itu. Ten­tunya perlu juga ke­bijakan dari pe­me­rintah kota untuk me­nyikapi hal ter­sebut. Apabila tidak bisa de­ngan kesada­ran untuk menjaga keber­si­han, maka bisa dilakukan dengan cara pak­sa­an. Masya­ra­kat dipaksa harus men­jaga ke­bersihan de­ngan dikeluarkan­nya pe­ra­turan yang me­ngikat.

Teringat ketika masih duduk di bang­ku sekolah, ketika kita ketahuan mem­buang sampah terlepas itu sadar atau ti­dak kita akan didenda dan dihu­kum. Cara ini bisa diterapkan oleh pihak Pem­ko Medan untuk memaksa agar war­ga­nya hidup bersih. Berdasarkan informasi yang beredar, Pemerintah Kota Medan ber­sama DPRD sedang menggodok Ran­cangan Peraturan Daerah (Ran­perda) tentang sampah. Dari Ranperda ini yang ra­mai dibicarakan adalah ren­cana meng­hukum orang yang mem­buang sam­pah sembarangan, dengan pi­dana ku­rungan dan denda Rp50 juta. Rencana ini sangat baik, tetapi pihak Pemko Me­dan harus terlebih dahulu menjamin semua sampah masyarakat dapat terang­kut setiap ha­rinya dan di setiap sudut kota, ada tempat sam­pah yang representatif dan ter­jang­kau. Jadi semuanya harus berjalan seim­bang. Masyarakat yang melanggar atu­ran dan mengabaikan kebersihan dihu­kum agar jera dan kedepannya sudah memiliki niat untuk menjaga kebersihan, di sisi lain pihak pemko Medan juga ber­siap dengan menyediakan fasilitas leng­kap dan mumpuni untuk menjaga keber­si­han kota Medan. Ketika ini semua ber­jalan maka bisa dipastikan harapan kita me­dan menjadi kota bersih pasti akan ter­capai.

Disiplin dan Taat Pada Aturan

Salah satu kelemahan insan manusia masa kini yaitu, sulit untuk tunduk dan taat pada aturan yang berlaku. Bahkan di beberapa kalangan ada sebuah pernya­ta­­an yang terkesan sembrono, 'aturan di­buat untuk dilanggar'. Sebuah feno­mena yang cukup menyedihkan ditengah-te­ngah kecanggihan jaman dan perkem­ba­ngan teknologi. Tentunya ini harus men­jadi perhatian dari pihak Pemko Medan agar dapat membuat strategi untuk warga kota Medan agar dapat patuh dan taat ter­hadap aturan. Ini menjadi penting ka­rena hanya ketaatan akan aturan yang bisa menjadi­kan setiap program dari Pemko Medan khususnya tentang men­ja­dikan kota Medan bebas dari sampah dapat terwujud.

Ketika tercapai kesepakatan antara pihak Pemko Medan dan DPRD nan­tinya, tentunya akan keluar peraturan pe­me­­rintahan kota terkait usaha menuju Me­dan bersih. Peraturan tersebut juga akan memberikan informasi tentang atu­ran-aturan, sanksi, denda dan poin-poin lain yang terkait dengan menciptakan kota Medan yang bebas sampah. Pihak Pem­ko tentu perlu langsung melakukan ke­gia­tan sosialisasi terkait dengan atu­ran-aturan yang akan berlaku. Ini harus di­lakukan agar jangan sampai terjadi peraturan dijalankan tanpa ada sosia­li­sasi terlebih dahulu. Bisa jadi akan tim­bul keributan yang meresahkan. Dalam so­sialisasi ini, pemerintahan kota Medan bisa saja merangkul jajaran yang ada di­ba­wahnya seperti camat dan lurah, se­hing­ga mereka bisa menjadi corong un­tuk sosialisasi menuju Medan bersih ter­sebut.

Untuk menjadikan Medan bebas sam­pah, bersih dan sehat tidak cukup hanya melibatkan beberapa kalangan saja. Tetapi semua pihak harus sepakat dan me­miliki komitmen terkait program ter­sebut. Meng­ingat kebersihan memiliki man­faat yang luas bagi kita semua, maka tidak ada cerita bagi siapapun untuk ti­dak terlibat dan ber­gabung untuk ke­gia­tan yang baik tersebut. Kebersihan pang­kal kesehatan dan Kese­ha­tan se­bagian dari iman, harus benar-benar diwujud­nya­takan. Ketika Medan bersih dan se­hat, maka yang untung dan bangga tidak lain, tidak bukan warga kota Medan itu sen­diri. Kita harus bercermin dari dae­rah-daerah lain yang begitu peduli de­ngan kebersihan kotanya. Kita sebagai war­ga kota Medan juga harus demikian. Kata-kata 'Ini Medan Bung!!' bisa kita berlakukan juga untuk kondisi Medan ber­sih.

Penutup

Sebelum DPRD mengetok palu Ran­perda Persampahan, Pemko Medan harus menunjukkan perbaikan kiner­ja­nya dalam menangani sampah. Ayo leng­kapi ketersediaan pembuangan sampah se­mentara hingga ke tingkat lingkungan. Lalu, pastikan semua sampah diangkut pada hari itu juga, jangan sampai me­num­puk berhari-hari. Jangan berdalih armada yang terbatas. Masyarakat juga demikian, jangan membuang sampah sembarangan, karena nantinya setiap tempat, lokasi dan sudut-sudut kota akan tersedia tempat sampah. Jangan juga membuang sampah di sembarang tempat dengan dalih ter­buru-buru. Apalagi membuang sampah di se­lokan, parit, atau sungai-sungai. Se­muanya bertujuan untuk memncipta­kan kota Medan bebas dari sampah dan kom­ponen-komponen tidak bersih lain­nya. Kita harus sama dengan kota-kota bersih lainnya, bahkan apabila me­mung­kin­kan melebihi keber­si­han kota-kota bersih tersebut. Ketika Me­dan bersih, yang untung adalah warga kota Medan sendiri. Jadi mari jadikan kota Medan bersih dari sampah. Kota Me­dan metro­po­­litan, kota Medan bebas dari sampah. ***

Penulis Merupakan Staf UPT LPPM (Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat) Politeknik Unggul LP3M Medan

Artikel ini telah dimuat di Harian Analisa edisi Sabtu, 06 Juni 2015

Link : http://analisadaily.com/opini/news/menuju-kota-medan-yang-bersih/139825/2015/06/06​