Menu

:
  • Home
  • Artikel
  • Stabilkan Politik demi Kestabilan Ekonomi

Stabilkan Politik demi Kestabilan Ekonomi

Dipos Oleh : Admin LP3M
Dibaca : 996 kali
09 Juni 2015 14:30:48

Oleh: Ramen A Purba,S.Kom., M.Kom.

DATA Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2015 hanya 4,71% atau lebih rendah ketimbang periode yang sama tahun lalu sebesar 5,14%. Banyak pihak menduga, pertumbuhan ekonomi dengan persentase demikian tidak terlepas dari stabil tidaknya politik dan keamanan di dalam negeri. Ekonomi bisa tumbuh jika politik dan keamanan stabil, begitu pula sebaliknya. Kondisi yang sangat sederhana untuk dipahami. Cara untuk melakukannya juga cukup sederhana. Kita ingin perekonomian tumbuh pesat, kita cukup menumbuhkan kestabilan politik sebagai penopang utama.

Sebuah cara yang sederhana dan mudah tetapi banyak pihak yang tidak menyadari atau pura-pura tidak menyadari kondisi saling keterkaitan antara faktor politik dan ekonomi ini. Di masa sulit ekonomi seperti seperti sekarang, para elite politik kita masih juga melakukan kondisi-kondisi perpolitikan yang cenderung mengkhawatirkan. Sebagai contoh, prahara Partai Golkar yang belum jelas kapan aka berakhir, PPP yang masih alot dalam menentukan komposisi kepengurusan mana yang mau diikuti. Semuanya ini merupakan contoh kecil kekisruhan politik di negeri ini yang tanpa disadari juga terkait dengan kondisi perekonomian tanah air.

Pemahaman elite-elite politik di republik ini pentingnya kestabilan politik demi terciptanya kestabilan ekonomi hanya berkutat di tataran pemikiran, tetapi jarang diimplementasikan dalam perilaku dan tindakan. Persatuan hanya ramai diobral lewat ucapan. Mereka masih terbelenggu oleh nafsu untuk berpecah belah atas nama rivalitas yang sepertinya tiada ujung. Elite-elite politik seharusnya memelopori ketenangan. Pidato Presiden Joko Widodo pada pelantikan pengurus DPP dan Rakernas I Partai Amanat Nasional (PAN), mengingatkan lagi pentingnya persatuan, persaudaraan, dan kerukunan seluruh elite, semua anak bangsa, demi terciptanya stabilitas politik dan keamanan. Tentunya ini harus menjadi perhatian segenap elit politik di negeri ini agar mereka mampu menguasai diri dan golongannya agar melakukan langkah-langkah politik yang lebih santun dan jauh dari keributan.

Elite-elite politik di negeri ini jangan membuang percuma energi hanya demi memuaskan syahwat persaingan politik sempit yang ujung-ujungnya berimbas buruk bagi pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi kita yang melambat menyebabkan daya beli rakyat pun menurun. Tekanan global yang terus memenetrasi perekonomian dalam negeri harus segera usai. Perlambatan ekonomi jangan terus kita biarkan. Tekanan global mustahil kita hadapi dengan reaksi biasa-biasa saja. Harus ada tekad dan kemauan luar biasa dari seluruh elemen bangsa untuk mengatasi semua persoalan itu.

Ciptakan Stabilitas dan Keamanan
Setelah pilpres berakhir Juli lalu, rivalitas politik mestinya diarahkan untuk pertarungan memenangkan kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat merupakan hal yang utaman. Rakyat butuh makan, rakyat butuh rumah, dan rakyat butuh pekerjaan. Poin ini yang hendaknya dipikirkan oleh para pelaku politik dari pada harus ribut-ribut melakukan hal-hal yang tidak jelas tujuannya. Daripada sibuk melakukan teriakan-teriakan yang merusak tenggorokan, lebih baik para elit politik di negeri ini berpikir bagaimana cara untuk membahagiakan rakyat yang notabene merupakan pemilik suara yang menghantarkan mereka untuk menduduki posisi-posisi tertentu dalam dunia perpolitikan tanah air.

Untuk menciptakan stabilitas politik dan keamanan bukanlah sebuah hal yang sulit untuk dilakukan. Hanya cukup meredam amarah dan mengendalikan emosi sudah cukup. Selain itu, semua aspirasi tujuan diarahkan untuk kesejahteraan rakyat. Ketika semua itu dilakukan, maka sudah bisa dipastikan stabilitas politik dan keamanan akan terwujud. Selama ini yang terjadi karena para elit politik merasa rakyat bukan yang utama. Mereka berpikir ingin menjadikan republik ini menjadi milik mereka para elit politik dan golongan-golongannya. Ini filosofi yang salah yang harus diubahkan paradigmanya.

Peningkatakan ekonomi merupakan impian kita semua. Tidak ada satupun elemen di negeri ini yang ingin hidup susah dan sengsara. Semuanya ingin menikmati kehidupan yang normal dan baik. Salah satu caranya yaitu menjaga kestabilan baik politik maupun keamanan. Tidak hanya para elit politik, masyarakat juga harus mampu menjaga kestabilan keamanan dan politik dalam diri dan lingkungannya. Ketika semuanya sudah mampu melakukan hal tersebut, maka kestabilan ekonomi akan hadir di kehidupan kita.

Aturan Pengendali
Komponen yang berkontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi salah satunya ialah konsumsi rumah tangga alias masyarakat. Perannya mencapai lebih dari separuh produk domestik bruto kita. Konsekuensi pertumbuhan dengan topangan konsumsi seperti itu ialah ketika masyarakat bergairah membelanjakan pendapatan, pertumbuhan ekonomi akan melaju. Sebaliknya, begitu daya beli menurun, pilar-pilar perekonomian pun menjadi lemah. Bagai lingkaran setan, daya beli yang rendah membuat dunia usaha tidak berkembang karena lesunya penjualan. Jangankan meningkatkan upah buruh dan menyerap lebih banyak tenaga kerja, pelaku usaha harus berusaha keras untuk tidak mengurangi karyawan. Aturan harus segera diterapkan sebelum lonjakan harga barang dan jasa mendera pada periode Ramadan dan Lebaran yang tinggal sebulan lagi.

Pemerintah diharapkan tidak salah resep dalam menarik investasi. Utamakan investasi yang menyerap banyak tenaga kerja. Tujuannya untuk sekalian memberikan lapangan pekerjaan bagi segenap masyarakat Indonesia.

Pemerintah juga harus mengevaluasi investasi demi menjaga efektivitasnya dalam mendorong perekonomian. Belanja pemerintah untuk proyek-proyek pembangunan harus dipercepat bagaimanapun caranya, asalkan tidak masuk kantong pribadi. Menumbuhkan perekonomian bukan sekadar mengejar target angka yang tinggi. Percuma ekonomi tumbuh pesat, tetapi ketimpangan kesejahteraan makin lebar. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pun terlanggar. Pemerintahan yang tepat memang harus siap menanggung risiko atas kebijakan yang pahit di awal-awal, tetapi mendatangkan manfaat jangka panjang.

Namun, itu tidak berarti mengabaikan sama sekali katup pengaman jangka pendek. Permasalahan politik dan keamanan harus segera diselesaikan agar perekonomian Indonesia yang kupak-kapik bisa kembali stabil. Kestabilan perekonomian ini merupakan harapan kita bersama. Harapan kita untuk kestabilan dan kesejahteraan segenap rakyat Indonesia.

Oleh : Ramen A Purba SKom MKom, Penulis staf UPT Lembaga Penelitian &           Pengabdian Masyarakat Politeknik Unggul LP3M Medan

Artikel ini telah dimuat di Harian Analisa edisi Sabtu, 23 Mei 2015

Link : http://mdn.biz.id/n/165185/