Menu

:
  • Home
  • Artikel
  • Kejadian Angeline, Cambuk Bagi Para Orang Tua

Kejadian Angeline, Cambuk Bagi Para Orang Tua

Dipos Oleh : Admin LP3M
Dibaca : 1.113 kali
15 Juni 2015 15:41:53

Oleh : Ramen Antonov Purba

Teka-teki keberadaan Angeline terjawab sudah. Jenazah bocah berusia delapan tahun tersebut ditemukan polisi pada Rabu (10/6/2015) siang, terkubur di halaman belakang rumah ibu angkatnya, Margareith, di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali. Jenazah Angeline yang dikubur selama hampir tiga minggu ditemukan dalam keadaan tertelungkup. Dia memeluk boneka barbie dan dibungkus kain sprei warna putih. Pada leher korban terdapat jeratan tali plastik warna coklat sebanyak empat lilitan dan pada ujungnya simpul mati disambung tali plasti warna biru. Dari data yang diperoleh di media, terdapat banyak sekali luka yang ditemukan dokter di tubuh Angeline. Memar juga ditemukan di paha kiri samping, punggung kaki kiri samping, dada samping kanan, leher samping kanan, dahi samping kanan, pelipis kanan, dahi samping kiri, batang hidung, pipi kiri atas, pipi kiri bawah telinga, leher samping kanan, leher kanan atas bahu. Pada bagian depan bawah lutut Angeline ditemukan luka lecet, punggung kanan luka bakar berbentuk bulat, punggung kanan bawah bahu terdapat luka bakar akibat disundut rokok. Sungguh menyedihkan apa yang dialami oleh Angeline. Perlakuan yang seharusnya tidak pantas untuk dialami oleh seorang anak.

Kejadian Angeline ini kembali memperlihatkan bagaimana sikap tidak menghargai orang dewasa terhadap anak. Anak senantiasa menjadi objek pelampiasan emosi, kekesalan, bahkan terkadang perilaku menyimpang orang yang lebih tua darinya. Tergambar dari kasus Angeline, dimana kejadian ini terlihat seperti disengaja dan terkesan disembunyikan, bahkan terlihat ada unsur rekayasa. Terlihat dari pernyataan orang tua angkat bocah kelas 2-B di SDN 12 Kesiman, Sanur, Denpasar, itu. Orang tua angkat mengatakan kalau Angeline hilang pada Sabtu (16/5/2015). Selain itu kakak angkat Angeline, Ivon dan Christine juga mempublikasikan hilangnya Angeline ke media sosial yang ditanggapi banyak orang dengan positif dan empati. Anehnya setiap ada tamu yang ingin bertamu dan bertanya tentang Angeline, keluarga selalu menghindar untuk bertemu. Salah satunya Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi gagal menemui ibu angkat Angeline, Margaretha di Denpasar. Setelah menunggu di depan pintu gerbang rumah di pinggir jalan, Yuddy didatangi seorang petugas pengamanan pribadi yang berjaga di depan rumah, I Dewa Ketut Raka. Dia mengatakan keluarga tidak ingin menerima tamu karena kondisi psikis dan kesehatan Margareta yang tertekan setelah Angeline hilang. Setelah itu ada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise yang juga bernasib sama dengan Yuddy.

Sekjen Komnas PA Arist Merdeka Sirait menyatakan kecurigaannya jika ibu angkat Angeline, Margareta sengaja menutup-nutupi kondisi rumah yang dianggap tak layak huni dan sengaja tak ingin mengungkap perlakuan yang diterima oleh Angeline. Ternyata ungkapan Arist Merdeka Sirait itu benar. Menurut pengakuan Guru sekolahnya Angeline sering datang kesekolah dengan lusuh bahkan bau karena tidak pernah mandi, kemudian juga sering datang terlambat. Tentunya ini akibat kurang perhatian dari ibu angkatnya dan kakak angkatnya. Sungguh merupakan kondisi yang sangat memilukan. Penulis yang juga merupakan seorang ayah juga tidak sadar telah menitikkan air mata ketika membaca siksaan-siksaan yang dirasakan oleh Angeline. Dia diangkat bukannya dibesarkan tetapi malah disiksa melebihi kekuatannya sehingga akhirnya harus meninggalkan dunia ini di usianya yang masih sangat muda. Penulis berharap para pelaku agar dihukum seberat-beratnya agar dapat menjadi contoh bagi yang lain agar tidak lagi melakukan penyiksaan terhadap anak-anak. Anak-anak yang begitu bersih seharusnya mendapatkan masa anak-anak yang indah. Anak-anak yang merupakan masa depan bangsa, seharusnya mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang layak sesuai dengan usianya yang masih begitu belia.

 

Cambuk Bagi Orang Tua

Kejadian yang dialami oleh Angeline ini kiranya dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi semua orang tua yang ada didunia ini. Jangan sembarangan untuk menyerahkan anaknya untuk diasuh oleh orang yang belum dikenal betul bagaimana karakternya. Ketika orang tua tersebut susah alangkah baiknya anak tersebut diserahkan ke panti asuhan yang resmi untuk diasuh. Angeline merupakan wujud anak belia kecil yang diserahkan ke keluarga margareta karena keluarganya hidup dalam kesusahan. Ternyata keluarga tempat mereka menitipkan Angeline bukanlah keluarga yang baik seperti yang mereka harapkan. Memang tidak semua keluarga yang anaknya dititipkan mengalami kejadian seperti yang dialami oleh Angeline. Ada juga keluarga yang baik dan memang bertanggung jawab terhadap anak yang diserahkan kepada mereka. Hendaknya bagi orang tua yang lain harus selektif dalam menitipkan atau memberikan hak asuh atas anak mereka. Kisah Angeline sekali lagi penulis gambarkan sebagai kasus yang harus benar-benar menjadi pelajaran bagi para orang tua. Anak bukan media untuk disiksa, mereka merupakan anugrah Tuhan yang harus dirawat dan disayangi.

Kejadian Angeline ini harus menjadi cambuk bagi semua orang tua di negeri ini agar menyayangi anak yang dikaruniakan kepada mereka meskipun kondisi kehidupan ekonomi mereka pas-pasan. Anak harus menjadi cambuk bagi semua orang tua untuk bekerja keras terkait pemenuhan kebutuhan hidup. Menitipkan, memberi hak asuh kepada orang lain kiranya menjadi alternatif terakhir. Angeline yang begitu polos terkubur dengan memeluk bonekanya kiranya menjadi perenungan bagi segenap orang tua untuk senantiasa bersemangat untuk berusaha memberikan kasih sayang kepada setiap anak-anaknya. Kondisi negeri yang susah jangan sampai membuat kita sebagai orang tua juga susah. Kita senantiasa harus menjadikan anak sebagai pemacu semangat bagi kita untuk berusaha. Kiranya jangan ada lagi Angeline lain yang mendapatkan perlakukan dan tragedi serupa yang sangat memilukan. Ibu Angeline begitu berduka dan bersedih ketika melihat kondisi anaknya yang terbujur kaku. Tetapi apapun ceritanya semua sudah terlambat. Angeline sudah berada bersama sang Pencipta ditempat yang maha tinggi. Kini tinggal kenangannya yang hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk mengubah sikap, karakter, dan pola hidup kita kearah yang lebih baik dan waras.

 

Pentingnya Pengawasan dan Kepedulian

Hakekat manusia sesungguhnya merupakan makluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lain. Manusia tidak akan bisa hidup sendiri tanpa dibantu oleh orang lain disekitarnya. Kejadian Angeline ini sesungguhnya berlarut-larut karena tetangga yang ada disekitar rumahnya pun tidak ada kepedulian terhadap kejadian-kejadian yang sesungguhnya mengandung misteri untuk diselidiki. Dikatakan tetangga sering mendengar suara marah-marah, berteriak-teriak, anak menangis dan sebagainya. Seharusnya hal tersebut menjadikan mereka bisa saja menegur atau menanyakan terkait hal tersebut. Tetapi kenyataannya tidak, sampai akhirnya Angeline yang senyumnya begitu manis harus merasakan nasib yang sungguh-sungguh malang. Karenanya kejadian Angeline ini kembali mengingatkan kita untuk lebih saling peduli lagi terhadap sesama kita. Tidak ada salahnya untuk bertegur sapa bahkan melaporkan sekiranya ada tindakan-tindakan yang tidak manusiawi dan tidak sepantasnya dilakukan.

Kepedulian terhadap sesama menjadikan kita bisa saling mengawasi satu dengan yang lain dalam kehidupan kita. Karenanya kepedulian sangat harus mulai kita motivasi untuk berkembang. Karena kepedulian ini membuat kehidupan bermasyarakat akan semakin damai dan berjalan dengan harmonis. Kejadian Angeline kembali penulis tegaskan jangan sampai terulang kembali. Jangan gara-gara ketidakpedulian kita terhadap tetangga yang ada disekitar kita, ada kejadian yang seharusnya tidak terjadi menjadi terjadi. Mari ditengah-tengah repotnya dan minimnya waktu kita, kita peduli dan melakukan pengawasan terhadap apa yang terjadi disekitar kita. Selain itu, kepada organisasi-organisasi Anak diharapkan juga melakukan pengawasan terhadap anak-anak yang diberikan hak asuhnya kepada orang lain. Ini bisa menjadi program baru bagi Komisi Anak untuk mengawasi anak-anak yang dititipkan secara kekeluargaan. Kepada pihak keamanan juga harus ada kepedulian juga untuk mengawasi perkembangan anak yang ada didaerah pelayanan mereka. Hendaknya kejadian yang dialami oleh Angeline memberi petunjuk kepada kita untuk lebih bijaksana lagi dalam segala hal terkhusus memberikan perhatian kepad anak. Angeline, dirimu sudah tenang diatas sana. Hendaknya bisa menjadi pemberi tuah bagi orang tua lain di seluruh negeri.

 

Penulis Adalah Penggiat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Politeknik Unggul LP3M Medan