Menu

:

Hujan, Banjir, dan Penyakit

Dipos Oleh : Admin LP3M
Dibaca : 582 kali
08 April 2016 11:10:17

awal tahun 2016, hampir seluruh wilayah Indonesia dari ujung barat hingga timur merata diguyur hujan dengan kategori sedang dan lebat. Kota Medan merupakan salah satu wilayah yang hampir setiap hari diguyur hujan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, curah hujan yang muncul di Indonesia, khususnya kota Medan 2016 masih berada di bawah hitungan normal, yakni 500 milimeter.

Namun dalam beberapa kasus hujan harian, seringkali curah hujan berubah sangat deras, mencapai lebih dari 50 milimeter untuk curah hujan harian. Kondisi 50 milimeter per hari adalah hujan dalam kategori sedang hingga lebat. Tergantung bagaimana lebatnya angin yang meniupkan hujan.

Sewajarnya kita bersyukur ketika Tuhan menurunkan air yang berlimpah melalui peristiwa hujan. Namun musim hujan tak selalu menjadi berkah, di antara derasnya hujan pun terselip beberapa risiko. Karena terlalu berlimpahnya air yang turun, bumi tak sanggup lagi untuk menampungnya, sehingga terjadilah banjir. Banjir adalah fenomena terjadinya genangan air yang meluap menutupi jalanan dan rumah-rumah warga ketika limpahan air datang.

Jika dikaji secara ilmiah, massa air seharusnya dapat ditampung oleh sungai dan bumi. Tuhan sesungguhnya telah menciptakan segala sesuatunya baik. Sejatinya hujan yang seharusnya menjadi anugrah, tiba-tiba berubah menjadi musibah. Bukan berarti berkat Tuhan tersebut tidak baik.

Berkat Tuhan selalu baik dan bertujuan mulia untuk kebaikan manusia. Tetapi karena perilaku dan polah manusia itu sendiri, sehingga semuanya menjadi berubah. Sungai yang seharusnya dapat menampung kelebihan air kini sudah menjadi sangat dangkal karena ulah manusia yang senantiasa membuang sampah ke sungai. Tidak hanya itu, manusia juga menjadi serakah dengan sesukanya menebang pohon tanpa memikirkan untuk menanamnya kembali. Selain itu manusia juga kurang menjaga parit-parit pembuangan air yang ada disekitar rumahnya, sama dengan sungai, manusia sesukanya membuang sampah di parit tanpa pernah berpikir untuk mengeruknya. Semua ulah manusia inilah yang membuat banjir terjadi.

Jika saja manusia menyadari itu semua pastilah hujan akan senantiasa menjadi berkah berapapun debit yang turun dari langit. Karenanya manusia harus berubah. Sikap yang suka merusak alam harus dihentikan. Manusia harus lebih peduli dengan lingkungannya. Jika tidak, mungkin saja suatu saat lingkungan akan memusuhi manusia.

Pemerintah sebagai pihak yang mengkordinir masalah lingkungan, harus tegas dalam bertindak. Harus ada aturan yang ketat untuk mencegah terjadinya pelanggaran pengerusakan lingkungan. Memang kita melihat sudah banyak usaha pemerintah terkait dengan pelestarian lingkungan. Tetapi sepertinya perlu lebih tegas dan giat lagi. Komunikasi dan sosialisasi harus secara intensif dilakukan. Masyarakat harus diberi pemahaman terkait langkah untuk menyayangi lingkungannya. Apabila tidak, maka bersiaplah menghadapi banjir setiap saat.

Banjir bukan saja menghambat aktivitas, tetapi juga membuat kerugian materi yang tidak sedikit. Kita lihat saja setiap kali media menyiarkan kondisi banjir di beberapa wilayah, ada yang garasinya sampai tergenang air hujan beberapa hari dan membuat mesin mobil menjadi berkarat. Belum lagi peralatan elektronik seperti televisi, kulkas, dan tape, ditambah peralatan rumah tangga seperti kursi, meja makan, dan tempat tidur. Tentu tidak sedikit biaya untuk perbaikan semua perangkat tersebut.

Karenanya langkah positif terkait menjaga kekondunsifan lingkungan harus menjadi tugas bersama. Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga harus ikut serta dalam menjaga lingkungan agar tetap bersih, asri, dan nyaman. Tidak usah berpikir untuk lingkup yang besar, cukup merawat lingkungan sekitar saja sudah cukup membantu.

Penyakit

Ketika air tergenang di mana-mana, maka penyakit pun akan berdatangan. Memang air rentan mendatangkan penyakit, jika tergenang dalam jangka waktu yang cukup lama. Bahkan ketika tidak ada banjir pun, air keran dirumah dapat menjadi masalah bagi penggunanya, jika pengelola jasa layanan air bersih tidak melakukan proses penghigienisan air dengan baik. Menurut data dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), ada 3 penyakit yang rentan datang jika terjadi banjir dalam waktu yang lama, antara lain:

1. Penyakit Diare

Penyakit diare erat kaitannya dengan kebersihan diri atau individu. Ketika banjir melanda pemukiman, tentu kebersihan menjadi tidak terjamin. Air minum dan sumur akan sangat berpotensi dicemari oleh bakteri dan kotoran. Apalagi fasilitas sanitasi dan pangan yang diberikan ala kadarnya, serba terbatas dan minim. Kondisi tersebut akan semakin mempercepat potensi timbulnya penyakit diare.

2. Penyakit Demam Berdarah

Demam berdarah merupakan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk jenis ini biasanya populasinya sangat tinggi dan cepat di musim penghujan. Ketika musim hujan tiba, banyak kaleng bekas, ban bekas, dan ember-ember di dekat rumah yang terisi air hujan dan menghasilkan genangan. Genangan air inilah yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti. Oleh karenanya, jika masuk musim hujan tiba dan terjadi banjir, resiko terjangkit penyakit demam berdarah langsung meningkat drastis.

3. Penyakit Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit disebabkan bakteri yang disebut dengan bakteri leptospira. Penyakit Leptospirosis ini ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus. Di wilayah Indonesia yang sering terendam banjir, Leptospirosis biasanya menular melalui kotoran dan air kencing tikus. Ketika masuk musim hujan tiba dan suatu wilayah mulai banjir, maka tikus-tikus akan ikut keluar dari sarang dan berkeliaran di antara banjir. Kotoran dan kencingnya akan terkontaminasi langsung dengan air banjir. Jika ada kulit manusia yang terluka yang terendam banjir, dapat dipastikan risiko terkena penyakit Leptospirosis ini akan semakin besar.

Tak jarang penyakit-penyakit di atas sampai menyebabkan terjadinya korban jiwa, yang tak jarang sampai kehilangan nyawanya. Untuk kota Medan saja, data dinas kesehatan Kota Medan melansir penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di kota Medan sejak Januari 2015 hingga Oktober 2015 yakni sebanyak 1.077 pasien dan 9 orang meninggal dunia. Di tahun 2016 yang baru berjalan 2 bulan, sudah ratusan yang terkena DBD dan sampai ada yang meninggal dunia. Demikian juga dengan diare dan leptospirosis. Banyak anak-anak sampai orang dewasa yang menjadi korban dan harus dirawat di rumah sakit.

Langkah Pencegahan

Kita tentu sudah sepakat, banjir terjadi akibat dari ulah manusia yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup, hutan-hutan yang ada di bukit-bukit ditebangi berganti dengan bangunan rumah beton, parit-parit yang semakin dangkal karena sampah, dan sungai-sungai yang juga semakin dangkal karena limbah rumah tangga. Wajar jika setiap hujan turun maka banjir pun datang. Jika sudah mengetahui apa pangkal permasalahan, maka sesungguhnya untuk mencari jalan keluarnya juga dapat dengan cepat dilakukan. Diantaranya sebagai berikut:

1. Melakukan program pelebaran parit. 

Dengan demikian untuk lingkungan perumahan skala terbatas, minimal air yang berpotensi tergenang akan dapat ditampung oleh parit.

2. Mengeruk dan Membuat cabang/anak sungai

Banyak sungai khususnya di kota medan sudah sangat dangkal akibat sampah dan limbah industri yang dibuang orang-orang tak bertanggung jawab. Karenanya harus dilakukan pengerukan dan memecah sungai tersebut sehingga arahannya akan semakin banyak. Jadi aliran dapat lancar dan dapat menampung debit air yang besar.

3. Melakukan Penanaman Pohon di Areal Gundul 

Salah satu komponen yang berfungsi sebagai penyerap air yang cukup besar yakni pohon. Jika ada lokasi-lokasi yang gundul, maka harus ditanami, sehingga tanaman tersebut dapat kembali bertugas untuk menyerap air.

4. Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Khususnya untuk daerah perkotaan, RTH ini sangat penting untuk diperbanyak, karena kota sangat rentan dengan banjir. Banyaknya pembangunan perumahan menjadikan areal hijau sangat kurang sehingga tidak ada senjata yang mampu menyerap air. Dengan banyaknya pohon hijau yang terpusat di beberapa tempat, minimal dapat menyerap debit air.

Untuk terhindar dari penyakit juga ada langkah-langkah yang harus dilakukan, antara lain seperti:

1. Untuk mencegah penyakit khususnya DBD, maka nyamuk penularnya (Aedes Aegypti) harus diberantas, juga memberantas jentik-jentiknya di tempat berkembang biaknya.

2. Melakukan Gerakan 3M (Menguras, Menutup rapat, dan Mengubur). Karena tempat-tempat berkembang biaknya terdapat di rumah dan tempat umum, maka setiap keluarga harus melaksanakan "3M" secara teratur, sekuang-kurangnya seminggu sekali.

3. Membuat sanitasi air bersih di lokasi-lokasi rawan banjir, sehingga pasokan air bersih dan layak pakai dapat terpenuhi.

4. Memasang perangkat tikus di lokasi-lokasi yang ditengarai sebagai tempat berkembang biaknya tikus. Sehingga tikus tidak akan berkeliaran dan menyebarkan bakteri melalui kotoran dan air kencingnya.

Dengan semua langkah-langkah ini kita berharap banjir dan penyakit tidak akan terjadi. Masyarakat akan semakin nyaman dalam beraktivitas karena tidak perlu stress setiap kali hujan turun. Langkah diatas merupakan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah di setiap tingkatan sampai ke masyarakat harus komitmen dan serius menindaklanjuti langkah pencegahan ini.

(Penulis Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan dan Lingkungan Hidup, UPT LPPM Politeknik Unggul LP3M Medan)

Link : http://harian.analisadaily.com/lingkungan/news/hujan-banjir-dan-penyakit/226861/2016/04/03​