Menu

:

Waspada, Modus Baru Peredaran Narkoba

Dipos Oleh : Admin LP3M
Dibaca : 848 kali
09 Juni 2015 10:22:14

 

Oleh: Ramen Antonov Purba

Jeratan Pasal 114 ayat 1 subsider Pasal 112 ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara ternyata tidak menakutkan pihak pengedar narkoba dalam menjalankan aksinya. Selain itu eksekusi mati yang sudah terjadi dua kali dan akan memasuki jilid yang ketiga ternyata belum juga menimbulkan efek jera terhadap para pelaku kejahatan narkoba. Parahnya, para pengedar mulai mempergunakan modus-modus alias trik-trik baru dalam menjalankan aksinya. Tentunya ini harus menjadi perhatian serius dari segenap aparat keamanan kita, agar mereka jangan sampai terkecoh dengan strategi baru yang dilancarkan oleh para pengedar narkoba dalam menjalankan aksinya.

Modus pertama yang dijalankan oleh para pengedar narkoba yaitu memasukkan ganja kedalam kue. Ganja yang merupakan salah satu kategori barang terlarang dimasukkan kedalam kue yang kemudian diperjualbelikan. Tidak tanggung-tanggung para pelaku memasukkan ganja tersebut dalam campuran kue brownies. Para pelaku memasarkan produk haram tersebut melalui website www.tokohemp. com, dimana website ini telah diblokir. Tetapi kegiatan ini langsung dapat diendus oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), dimana BNN langsung membongkar modus baru peredaran narkoba yang dilakukan sindikat yang beranggotakan lima orang. Target penjualan narkoba modus baru dalam coklat dan brownies ini adalah pelajar, mahasiswa, dan pecandu ganja di kota-kota besar, seperti Medan, Jakarta, Surabaya, dan Bandung.

Berikutnya Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya meringkus 2 pria dari 2 tempat terpisah di Jakarta. Dari tangan keduanya disita lebih dari 500 gram sabu senilai hampir Rp 1 miliar. Kedua tersangka menggunakan modus menyimpan barang haram itu dalam kemasan makanan ringan. Tentunya ini juga merupakan modus baru untuk mengedarkan narkoba. Tentunya tidak akan ada yang menyangka apabila ada yang menyimpan narkoba dalam kemasan makanan ringan. Dibutuhkan ketelitian yang tinggi tentunya sehingga pihak kepolisian bisa menangkap para tersangka. Berbeda dengan modus brownies, kali ini para tersangka tidak mencampurkan narkoba dengan makanan ringan, tetapi hanya menjadikan wadah makanan ringan sebagai tempat untuk mengelabui petugas.

Terbaru dan sangat mengejutkan yaitu peredaran narkoba dengan menggunakan modus permen. Peredaran narkoba dalam kemasan permen ini jelas sangat mengkhawatirkan, karena sekilas bentuk fisik kemasan permen tidak berubah, tapi bila disentuh terasa ada kemasan plastik di dalamnya. Modus ini terkuak setelah Kepolisian melakukan penangkapan terhadap BLY (33) warga Jalan Kartini III RT 08/05 Kartini, Sawah Besar, Jakarta Pusat, setelah dikembangkan, maka dilakukan penangkapan terhadap dua orang yang diketahui berinisial, M alias A (34) Jalan Budi Mulia Nomor 16 RT 06/05 Pedemangan Barat, Pedemangan Jakarta Utara dan EAA (34) warga Jalan Mandor IV Nomor 3 RT 11/05 Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat itu diungkapkan Kapolsek Sawah Besar, Kompol Ronald A Purba.

Hasilnya, sebanyak 25 paket shabu dalam permen seberat 25 gram serta 95 butir narkoba jenis H-5 pun berhasil diamankan pihaknya. Rencananya, kedua narkoba tersebut akan diedarkan keduanya di Apartemen Green Bay dengan harga Rp 800.000 per paket shabu berisi 0,5 gram per paket dan seharga Rp 200.000 per butir H-5.

Modus-modus baru ini tentunya akan sangat mengkuatirkan apabila tidak langsung diketahui proses peredarannya. Bahkan bisa saja sebelum ditangkap oleh petugas, para pengguna modus-modus baru ini ntah sudah menjual berapa banyak produk yang mereka miliki. Penggunaan modus-modus baru ini tentunya harus meningkatkan kecerdasan para aparat kita untuk meringkusnya. Bahkan aparat kita juga harus siap dan jeli dengan modus-modus baru yang bisa saja akan muncul.

Solusi

Tentunya harus ada solusi yang kongkret yang dilakukan oleh pihak Kepolisian untuk segera mengantisipasi modus-modus baru yang dilakukan oleh para pengedar narkoba ini. Menurut penulis, untuk mendukung keseriusan perang terhadap narkotika ini, pihak kepolisian harus menyiapkan beberapa hal, seperti :

1. Baiknya kedepannya, pihak Kepolisian semakin meningkatkan kualitas petugasnya khususnya yang menangani kasus narkoba dengan kemampuan dan insting yang lebih mumpuni. Kondisi ini tentunya hanya bisa didapatkan dengan latihan yang giat dan apabila perlu melakukan studi banding ke Kepolisian yang sudah mumpuni dalam membongkar kasus narkoba dengan beragam kondisi.

2. Kepolisian harus lebih disiplin dalam mengawasi setiap gerak-gerik yang mencurigakan di daerah tugasnya, sekaligus waspada dengan orang-orang baru yang bisa jadi berasal dari luar daerah. Untuk ini, pihak Kepolisian bisa bekerjasama dengan aparat pemerintahan setempat, semisal. Kepala Lingkungan dan Jajarannya. Ini sangat penting, agar kedatangan orang baru yang bisa saja datang dengan niat yang tidak baik bisa langsung diantisipasi.

3. Ada baiknya pihak Kepolisian mengadakan patroli rutin di tempat-tempat yang ditenggarai menjadi daerah yang dikategorikan rawan peredaran narkoba. Ini penting, agar setiap langkah dan tindak-tanduk para pelaku atau pengedar bisa langsung diketahui dan diantisipasi.

4. Untuk mencegah tindakan pembekingan oleh aparat sendiri, ada baiknya pemerintah memperhatikan kesejahteraan petugas Kepolisian. Apabila perlu disamakan dengan TNI yang dinaikkan besar gajinya oleh Presiden. Ini menjadi hal yang sangat penting, agar aparat Kepolisian berpikir dua kali ketika ingin melakukan penyimpangan, mengingat penghasilan yang mereka peroleh juga sudah lebih dari cukup, sehingga integritas dan tanggungjawab dalam melaksanakan tugas bisa lebih maksimal.

5. Berikutnya, pihak Kepolisian harus menjalin komunikasi yang intensif dengan masyarakat, apabila perlu pihak Kepolisian menyediakan nomor kontak, sehingga setiap ada gerak-gerik yang mencurigakan masyarakat bisa langsung melaporkan.

Dengan solusi yang mumpuni yang penulis yakini pihak Kepolisian juga bisa saja sudah memikirkannya, maka langkah para pengedar narkoba bisa lebih dipersempit dan apabila perlu dihabisi. Perang terhadap narkoba merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Generasi muda kita harus diselamatkan dari ganasnya peredaran narkoba. Oleh karena itu, jangan ada lagi sikap neko-neko terhadap peredaran narkoba, begitu juga dengan pelaku-pelaku yang mengedarkannya. Narkoba merupakan musuh bangsa yang harus dihabisi peredarannya, agar tidak lagi mencemari dan mendekati generasi penerus bangsa yang sebelumnya sudah terlanjur banyak yang hidup dengan narkoba.

Penutup

Pemerintah beserta Kepolisian dan Kejaksaan memang sudah serius dalam memerangi narkoba. Ini terbukti dengan tegasnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam melakukan eksekusi mati terhadap para terpidana mati kasus narkoba meski banyak negara yang mengintervensi dan meminta keputusan Presiden Joko Widodo terkait eksekusi mati tersebut dibatalkan. Tetapi kita dapat melihat, kegiatan peredaran narkoba bukannya makin menurun tetapi malah makin menjadi-jadi. Bahkan ada terpidana yang mengedarkan narkoba dengan melakukan kontrol dari balik jeruji besi (penjara). Tentunya kondisi ini sangat memalukan dan membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah terkhusus yang konsentrasi dalam penumpasan narkoba. Mengapa bisa terjadi hal yang demikian, tentunya ada kerjasama dengan pihak-pihak yang notabene bisa saja aparat pemerintah yang seharusnya melakukan perang terhadap narkoba. Karenanya kedepannya, kita semua bersinergi untuk memberantas peredaran narkoba dari bumi pertiwi. Modus-modus baru harus kita habisi dan tumpas.***

Penulis adalah Staf UPT LPPM (Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat) Politeknik Unggul LP3M Medan

Artikel ini telah dimuat di Harian Analisa edisi Sabtu, 23 Mei 2015

Link:http://analisadaily.com/opini/news/waspada-modus-baru-peredaran-narkoba/135557/2015/05/23